Mbak, aku belum tidur beberapa hari ini!” Kata-kata itu sungguh amat mencengangkan bagiku, ”Kok bisa?” Ketika kutanyakan sebabnya. ”Sedang ngelembur,” jawabnya. ”Tenang mbak, aku sudah minum Ekstra Fit dan Coffee supaya nggak ngantuk.” Tapi sungguh, aku tidak melihat cahaya orang yang antusias dengan ide-ide, sehingga untuk menumpahkannya, membutuhkan beberapa hari tanpa tidur, yang ada hanya wajah kusut masai dan mata menahan rasa kantuk.
Lain halnya ketika senior high school. Ketika itu, ada liga sepak bola antar kelas. Jika sampai final ada lebih dari lima kali pertandingan. Setiap pertandingan, biasanya putra menyiapkan tim solid, sedangkan putrinya dapat kehormatan untuk nyediain logistik dan penggembira suasana. Logistiknya macem-macem, dari beberapa galon air dan makanan, entah itu sekedar camilan atau makanan berat, sampai obat-obatan untuk enkle yang kena sladding. Biasanya sepertiga dari beberapa galon air dicampur suplemen dan duapertiganya tidak. Ternyata hampir semua teman-temanku yang putra mengaku sudah biasa mengonsumsi minuman berenergi. Biar sehat kali ya?
Apa bener mengonsumsi minuman berenergi atau penahan rasa kantuk itu bisa bikin sehat? Yuk kita selidiki sama-sama! Baru kita jawab pertanyaannya.
Minuman berenergi (selanjutnya: suplemen) memang menjadi maket center saat ini, selain emang iklannya jor-joran (profokatif banget atau hiperbolis?) atau emang kita lebih suka yang instan?
Sahabat, pernah dengar atau lihat tentang iklan suplemen nggak? Iklan yang menjanjikan kita akan memiliki energi ekstra, tidak gampang lelah, nggak ngurusin otot doang, dan dengan modal dengkul dapat untung sebesar-sebesarnya, atau kata-kata profokatif lain yang membuat kita berkesimpulan barang ini memang super duper? Tapi sebenarnya, apa yang ada di baliknya?
Di Balik Baju Rupawan
Suplemen yang hanya merogoh kocek tidak seberapa ini, memang berbaju rupawan. Kemasannya membuat sebagian orang terkesima (ceile, kayak artis aja). Di dalamnya ternyata ada bahan-bahan sakti mandraguna (masak sih?). Yang kontra dilarang sewot dulu! Yang pro jangan terbang dulu ya! Salah satunya adalah asam amino.
Asam amino merupakan senyawa pembentuk protein, bahan pembentuk tubuh manusia dan hewan. Sampai saat ini telah ditemukan 20 jenis asam amino yang menyusun tubuh manusia, dan mempunyai struktur, serta fungsi berbeda.
Asam amino yang sering dimanfaatkan adalah taurin, glisin, glutamat, karnitin, dll. Taurin adalah zat yang membantu pengaturan denyut jantung serta mencegah over aktivitas sekaligus menurunkan aktivitas dari sel-sel otak. Lain halnya dengan karnitin, dianggap mampu meningkatkan metabolisme tubuh dan pembakaran energi tubuh. Glisin dan glutamin juga bisa menjadi katalisator reaksi penggunaan energi, efeknya tubuh akan menjadi segar.
Khasiat ini dimanfaatkan oleh produsen suplemen yang katanya bisa meningkatkan energi kita. Betul nggak sih? Baca kelanjutan tulisan ini.
Asam amino secara alami didapatkan dari berbagai organ hewan, seperti taurin diambil dari empedu sapi dan glutamat banyak terdapat di otaknya. Tapi untuk komersil, biasanya tidak diambil dari organ hewan, karena harganya mahal, tidak praktis, dan kontinuitas bahan baku sulit dipertahankan. Sebagai pengganti, diambil dari bahan sintetik, rambut manusia, bulu unggas, dan biji jagung.
Jika bahan diambil dari bahan sintetik, kehalalannya lebih aman, karena tidak melibatkan bahan grey (baca: meragukan). Tapi reaksi asam kuat dan bahan-bahan kimia memiliki efek yang kurang baik bagi kesehatan, terutama pada dosis yang berlebihan. Apabila menggunakan proses fermentasi, maka tergantung media yang digunakan. Jika medianya halal, produk juga halal.
Asam amino yang diambil dari bahan alami juga tergantung dari proses dan bahan yang digunakan. Jika memakai rambut manusia, maka statusnya haram. Sedangkan jika menggunakan bulu unggas atau bagian lain dari unggas, maka tergantung dari proses penyembelihannya. Jika disembelih dengan cara Islam, maka asam amino yang dihasilkan halal.
Selain itu suplemen juga mengandung pemanis buatan. Coba sahabat simak tulisan ini. Mei 2002 lalu, Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia (YPKKI) bersama majalah Human Health telah menguji 35 produk suplemen yang paling diminati masyarakat. Hasilnya, banyak produk yang menggunakan pemanis buatan seperti sorbitol, aspartam, dan siklamat, namun tidak mencantumkan dalam bahan bakunya atau mencantumkan tapi tanpa peringatan terhadap konsumen.
Ternyata, penggunaan pemanis buatan hanya cocok untuk penderita diabetes. Jadi kenapa produsen sering menggunakan pemanis buatan? Karena murah saudara-saudara.
Soal keamanan pemanis buatan, farmakolog Prof. dr. Iwan Darmansjah Sp.FK menyarankan agar konsumen berhati-hati mengonsumsi produk dengan pemanis buatan. Kata beliau, ”Pada orang sehat, lebih aman jika mengonsumsi gula biasa.”
Penggunaan pemanis buatan menjadikan suplemen lebih mudah diserap tubuh, dibandingkan gula biasa terkait pengolahannya dalam tubuh, tetapi dalam hal efek samping akan lebih besar.
Dokter ahli gizi di Jakarta yang tidak mau disebut namanya menambahkan, “Pemakaian siklamat di Amerika Serikat sudah dilarang , karena percobaan pada tikus menimbulkan kanker buli-buli. Aspartam tidak boleh digunakan di air mendidih karena bisa terurai menjadi metanol yang menyebabkan kebutaan, lalu fenilalanin dapat mengganggu perkembangan otak.”
Astaghfirullah, apa kata dunia? Kalau kita masih biasa mengonsumsi suplemen, apa lagi sudah menganak cucu. Weleh... weleh... (kayak si Komo aja). Ayo, sama-sama kita renungkan. Apalagi ya kandungan dari suplemen itu? Sampai-sampai dia punya penggemar seantero jagat? Ngalah-ngalahin fansnya Zinadine Zidane, Madonna, atau Valentino Rossi sekalipun.Yuk, kita simak uraian selanjutnya!
Kandungan lainnya adalah zat stimulan, caffein. Caffein sering dianggap sebagai modifikasi obat yang paling banyak dikonsumsi di seluruh dunia. Zat ini dipercaya mampu meningkatkan mood dan mempengaruhi perasaan seseorang menjadi lebih baik. Caffein bereaksi dengan cara yang sangat kompleks, yaitu merangsang otak dan sistem saraf, dan mencocokkan diri ke dalam reseptor otak yang dirancang untuk bahan kimia lain, adenosin. Adenosin adalah bahan penenang alami yang memberitahu sel-sel badan untuk mengendurkan aktivitas. Dengan menghalanginya, caffein dapat mengelabuhi tubuh untuk tetap beraktivitas tinggi. Mekanisme ini akan meningkatkan tekanan darah, pengeluaran urin, dan aktivitas sistem saraf pusat. Ciri-cirinya, napas menjadi cepat, otot menjadi kaku, dan aliran darah dalam otak meningkat. Caffein dengan mudah diserap usus dan menyebar dalam beberapa menit melalui darah ke semua organ dan jaringan tubuh. Caffein dapat menolong, mencegah, atau menghilangkan kelelahan dan meningkatkan kewaspadaan.
Jumlah Caffein yang berlebihan menyebabkan rasa kantuk, memperburuk ketidakstabilan emosi dan gangguan mental. Watak menjadi tidak menentu dan meningkatkan kegelisahan. Pengaruh lainnya, rasa berdebar, gangguan lambung, mual, dan tinitus (dengung di telinga). Minum caffein terlalu banyak dapat memperberat kerja ginjal.
Menurut BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan), suplemen yang ada di Indonesia mengandung caffein sebanyak lima puluh mg per botol dan hanya dibolehkan mengonsumsi tiga botol per hari. Kemudian label dalam botol harus mencantumkan peringatan keras bagi penderita penyakit gula, darah tinggi, dan jantung. Selain itu, bagi yang mempunyai sensitivitas tinggi terhadap caffein, perlu hati-hati mengonsumsi produk ini.
Perlu Kita Tahu
Pada dasarnya setiap orang memerlukan suplai energi yang cukup untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Apalagi bagi olahragawan dan pekerja berat. Suplai energi ini berfungsi mengganti ion-ion tubuh yang hilang. “Kalau setelah beraktivitas berat ion-ion yang hilang tersebut tidak segera disuplai, maka orang tersebut akan kekurangan energi sehingga menjadi lemas dan kurang bersemangat,” kata seorang dokter ahli. Hal ini merupakan proses alamiah yang terjadi pada setiap orang. Untuk mengganti ion-ion yang hilang itu banyak cara yang bisa dilakukan, di antaranya dengan mengonsumsi karbohidrat, vitamin, gula, protein, lemak, dan mineral, yang dapat diperoleh dari berbagai makanan, buah-buahan, serta minum air putih.
Namun, banyak yang lebih suka mengambil jalan pintas, yaitu dengan suplemen. Bahkan, banyak yang mengonsumsi suplemen setiap hari. Diasumsikan oleh konsumen, suplemen sebagai sumber tenaga tambahan, tonikum, maupun multivitamin.
Untuk menggantikan energi yang hilang, tidak dapat dilakukan dengan mengonsumsi larutan garam/larutan elektrolit, tetapi dengan larutan gula. Larutan garam berfungsi mengganti elektrolit yang hilang. Sehari-hari tubuh rata-rata menyerap 6-12 gram garam termasuk dari usus, tetapi jumlah yang sama juga dikeluarkan setiap hari melalui kemih dan keringat. Pemasukan dan pengeluaran garam diatur oleh ginjal yang sehat dan bisa diperoleh dari konsumsi makanan sehari-hari.
Waspadalah terhadap klaim-klaim yang menjanjikan, sebab dapat menimbulkan penyakit baru. Umumnya, semua suplemen hampir sama komposisinya meskipun klaimnya berbeda, minuman kesehatan, minuman isotonik, ataupun minuman olahraga. Pada intinya promosinya sama yaitu dapat menggantikan energi yang hilang secara cepat dan mudah.
“Bagaimanapun, sesuatu yang diperoleh dengan instan biasanya cepat atau lambat akan menimbulkan efek samping. Untuk itu, sebaiknya beristirahatlah jika lelah dan biasakan mengkonsumsi makanan alamiah yang asupan gizinya lengkap,” ujar dra. Ida Lunggana, Apt. (Apoteker praktisi perlindungan konsumen).
.............................................................................................................................................
Tulisan ini juga pernah diterbitkan di Bening rubrik Artikel Ilmiah dengan beberapa revisi. Apa itu Bening...? Hehehe:) itu salah satu rumahku. seperti apa dia? tunggu kisahnya, semoga aku tak bosan berbagi:)
Jenis suplemen apa yang diangkat di tulisan ini? suplemen kimia yang instan. kalau bentuknya suplemen yang alami, malah dianjurkan lho... bagaimana membedakannya? Waktu reaksinya... yang alami membutuhkan waktu yang tidak sim salabim, karena prosesnya perlahan tapi pasti perbaikannya (insyaAlloh), dia kebanyakan bersifat preventif. Untuk jenis minuman ion dan isotonik perlu bahasan tersendiri.
Ini komentarnya:
yaufaniadam menulis on Mar 7, '09 ada penggantinya g yg lebih baik? |
creativeidea menulis on Mar 7, '09 akashiroo} berkata kalo minuman ion gimana? minuman ion sebenarnya memuat Na dan Cl (seingat ana dulu, ntar ana cari lagi). yang itu sering kita konsumsi sehari2, larutan garam. creativeidea menulis on Mar 7, '09 Kita (umat Islam) punya kok akhi. Komplit... di tibbun nabawi. Madu, minyak zaitun, habbatus saudah, dll Resep dari seorang teman (ana juga msh bljr u mnjadikannya habit): - sunnah Rasulullah: berhenti makan sebelum kenyang, tidur awal dan bangun awal (di malam hari), kebiasaan bersiwak. - usahakan mengurangi konsumsi gula. bisa diganti dengan madu. - setelah bangun tidur pas dini hari, sebelum mengonsumsi apa pun, usahakan minum air putih. enak juga klo dicampur madu. - perbanyak minum air putih (i.a akan ana bahas tema ini nanti) - olahraga yang cukup - lebih memilih makanan yang dikukus daripada goreng - konsumsi sayuran dan buah2an. daripada ngemil yang isinya yg angin doang. - klo berasa butuh banget suplemen, pas badan lelah banget, ngemut gula merah atau minum teh manis anget atau minum madu 2 sendok, insya Allah berasa lebih ringan. - membiasakan 'sami'na waato'na' kepada perintah Allah dan sunnah Rasul, soale hikmah dari ketaatan itu ngefek ke semua aspek, tak terkecuali kesehatan fisik. spt: menhirup air dri hidung ketika wudu, Qiyamul Lail, puasa senin kamis, senyum, berprasangka baik, dll (banyak banget deh). ada yang mau menambahkan?
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar