Selasa, 06 Maret 2012

12 MEI 1998

Empat syuhada berangkat pada suatu malam
Gerimis air mata tertahan di keesokan
Telinga kami lekapkan ke tanah kuburan dan simaklah itu sedu sedan
Mereka anak muda pengembara tiada sendiri
Mengukir reformasi karena jemu deformasi
Dengarkan saban hari langkah sahabat-sahabatmu beribu menderu-deru
Kartu mahasiswa telah disimpan dan tas kuliah turun dari bahu
Mestinya kalian jadi insinyur dan ekonom abad dua puluh satu
Tapi malaikat telah mencatat indeks prestasi kalian di Trisakti bahkan di seluruh negeri
Karena kalian berani mengukir alfabet pertama dari gelombang ini dengan darah arteri sendiri
Merah putih yang setengah tiang ini
Merunduk di bawah garang matahari
Tak mampu mengibarkan diri karena angin lama bersembunyi
Tapi peluru logam telah kami patahkan dalam doa bersama
Dan kalian bersih pahlawan bersih dari dendam
Karena jalan masih jauh dan kita perlukan peta dari Tuhan

(Taufik Ismail, 1998)



---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ketika merefresh bacaan Dari Gerakan ke Negara, hal 155. Izinkan Kami Menata Ulang Taman Indonesia, begitulah sub judulnya tertulis. Sebuah sajak dari Taufik Ismail menjadi pembukanya. Empat mahasiwa menjadi korban rezim orde baru.

Postingan 20 Juli 2009, pk 9:42 am. Komentarnya:

akashiroo menulis on Jul 20, '09
puisi yang menggugah...

pohonsakura menulis on Jul 20, '09
harapan itu masih ada...!!!

creativeidea menulis on Jul 24, '09
Sepakat... apakah kita termasuk salah satunya
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar