Senin, 05 Maret 2012

Bergerak atau Mati

Tokoh utama di film bertajuk Black Knight, seorang kulit hitam, selalu berpikiran praktis, glamour, instan, hedon, atau hal-hal yang berhubungan dengan MODAL SEDIKIT, UNTUNG BESAR di kehidupannya. Tidak jarang juga dia memakai prinsip CARI AMAN, YANG PENTING UNTUNG.

Tapi semua itu seketika berubah ketika dia terlempar ke masa kerajaan. Dia dianggap sebagai seorang yang kudus (baca: suci), utusan Tuhan untuk menolong kerajaan itu dari serangan bangsa luar. Seseorang yang terbiasa dan membiasakan diri hidup semau gue itu tiba-tiba harus menjadi panglima perang yang tentu saja membutuhkan perencanaan matang dalam setiap langkahnya. Mau tidak mau dia harus menunjukkan bahwa dialah sosok yang dicari, karena jika tidak, nyawalah taruhan. Dan di akhir kisahnya dia berkata, “Kau adalah Kesatria, jika Kau berkehendak.”

Ya, tentu saja kita dapat menjadi apa yang kita inginkan, jika kita bergerak dari ruang yang satu ke ruang lainnya, insya Allah. Seseorang akan dapat berhasil bila dia mau dan mampu keluar dari ruang nyamannya. Ketika kita melihat seorang hafidz, akan terpikir kita mau menjadi seperti dia, tapi kita harus bertanya lagi pada diri kita, sebenarnya seberapa besarkah kemauan kita menjadi seorang hafidz, sekedar keinginankah atau akan kita follow-up dengan langkah nyata?

Ketika kita over weight, kita berpikir bahwa aku mau kurus, tapi seberapa besar kita mau menjadi kurus? Apakah setelah kita mengetahui serangkaian diet ketat dan latihan rutin yang harus dilakukan, tekad kita jadi menyublim entah kemana? Atau ketika kita berkeinginan tentang sesuatu.

Sebenarnya perlu kita tanyakan pada diri sendiri kembali, sebenarnya seberapa besar keinginan kita menjadi seperti sesuatu itu? Atau seberapa mau kita memiliki sesuatu itu? Jika kita sudah bertekad bahwa kita memiliki THE BIGGEST WILL, kemauan yang sangat besar untuk menggapainya. Insya Allah, Allah swt akan mem-buat kita seperti apa yang kita inginkan.

“... Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. ...” (QS. Ar Ra'd: 11)

Karena Allah juga sudah berjanji di dalam sebuah Hadits Qudsi bahwa Allah swt sesuai dengan prasangkaan hambaNya. Jika kita berpikir bahwa kita mampu, insya Allah akan memudahkan langkah kita dan membuka pintu-pintu solusi di setiap jejaknya, biarpun solusi itu harus terlebih dahulu terbalut oleh kesengsaraan, duka nestapa, kesempitan yang berada dalam tanda kutip. Tempaan yang dilalui dengan keberanian dan ketaqwaan akan menghasilkan suatu maha karya, master pieces minimal bagi diri kita sendiri bahwa kita berhasil mengesampingkan gembok-gembok psikologis yang mengekang.

Kemauan yang besar akan ada artinya jika ditopang dengan langkah-langkah konkret, di setiap lininya. Ada seorang teman mengatakan, ”Ilmu tanpa amal itu non-sense!” Ibarat pohon yang sangat lebat, tetapi tidak berbuah, padahal seharusnya dia berbuah. Maka akan terasa hambar rasanya.

Kadang untuk mencapai suatu bentuk ideal, kita harus meninggalkan ego, malu, ragu, takut, cemas, malas, atau apalah yang mempunyai label negatif. Kadang ketika melangkah yang terbayang hanyalah, kalau gagal, kalau ditinggalkan, kalau ditertawakan, dan kalau-kalau yang lain. Seorang yang berani akan mencari alasan sebanyak-banyaknya untuk melaksanakan, bukan untuk menghindarinya. Hanya seorang pahlawan yang dapat melakukannya. Karena tidak akan pernah ada pelaut tangguh yang terlahir dari lautan yang tenang. 

Cukuplah Mereka menjadi Pelajaran bagi Kita

Seorang Helen Keller mempunyai tiga kespesialan utama pada tubuhnya, tuna rungu, tuna netra, dan tuna wicara. Secara manusiawi, ada pikiran impossible untuk menghasilkan berbagai karya atau untuk hanya sekedar merawat diri sendiri. Apakah itu yang kita pikirkan? Ternyata bagi seorang Hellen Keller, kata impossible bisa berubah menjadi i'm possible. Kenapa? Karena dengan usahanya yang gigih, dan dengan bantuan lingkungan sekitarnya, dia mampu menghasilkan musik yang sangat mempesona dunia.

Seorang maestro musik klasik, Beethoven yang karyanya mendunia sampai sekarang. Ternyata sahabat, Beethoven, seseorang yang diberi talenta khusus oleh Allah untuk piawai merangkai nada demi nada menjadi alunan musik yang aduhai, itu adalah seorang tuna rungu.

Mushab bin Umair, siapa yang tidak tahu dengan sosok beliau? Salah satu sahabat Rasulullah SAW yang ditugaskan sebagai pembuka jalan dakwah di Madinah, sebelum Rasulullah SAW hijrah ke sana. Sekelompokkah dia? Tidak sahabat. Dia seorang diri merintis dakwah di Madinah. Sosok Mushab, pemuda perlente pada jaman jahiliyahnya, meninggalkan semuanya untuk sesuatu yang lebih hakiki, kenikmatan yang abadi, kenikmatan berislam.

Kenapa seorang Mushab yang dipilih oleh Rasulullah untuk mendapatkan amanah itu? Padahal ada seorang Abu Bakar As Sidiq ra., Umar Al Faruq ra. yang sangat lembut hatinya pada saudara seimannya, Abu Ubaidah ra. yang diberi gelar Aminu Hadzihil Ummah (Kepercayaan Umat), atau Zaid bin Haritsah ra. dengan Hibbu Rasulillah SAWnya (Kekasih Rasulullah SAW), dan banyak lagi tokoh para sahabat yang spektakuler. Ternyata Rasulullah SAW tidak salah memilih. Mushab mampu menyiapkan kondisi Madinah menjadi kondusif, yang masyarakatnya sangat menanti-nantikan kedatangan seorang Rasulullah SAW sebelum massa hijrahnya. Subhanallah.

Syaikh Ahmad Yassin, seorang pejuang Palestina. Semasa hidupnya di sebagian besar waktunya dihabiskan di atas kursi roda karena beliau lumpuh. Tapi apakah beliau berdiam diri? Ternyata beliau adalah salah satu sosok yang ditakuti oleh tentara Israel, karena kata-katanya bisa membuat pemuda Palestina tergerak hatinya, untuk berjuang mempertahankan kalimatullah di bumi Palestina. Sampai-sampai Zionis repot-repot merencanakan untuk membunuhnya. Tindakannya mampu menjadi pedang untuk membunuh musuh Islam, dengan keberadaannya saja, dapat menggerakkan hati dan jiwa kaum muslimin untuk saling bahu membahu membela Al Aqsa' tercinta. 

Atau sosok Ust. Muhammad Faudzil Adhim, seorang penulis yang hampir semua bukunya menjadi buku yang best seller, sebut saja Kupinang Kau dengan Hamdallah, Dunia Kata, dan masih banyak lagi yang lain. Semasa kecilnya beliau pernah menjadi orang yang mendapatakan peringkat agak terakhir di kelasnya, sehingga beliau dipanggil oleh guru BK (Bimbingan Konseling), dan disarankan untuk masuk IKJ jurusan seni tari, karena sang guru merasa beliau memang sesuai di jurusan itu sesuai dengan peringkat beliau di kelas. Tetapi dengan lantangnya beliau mengatakan bahwa beliau akan masuk jurusan Psikologi di UGM. Sang guru sempat tidak percaya dengan yang dia dengar, tapi ternyata perkataan itu diijabah oleh Allah SWT. Seorang Fauzil Adhim lulus dari Psikologi di Universitas Gadjah Mada. Ketika beliau masih menjadi penulis pemula, beliau selalu disarankan untuk menawarkan karyanya di percetakan yang kurang terkenal, biar gampang katanya. Tapi beliau meyakinkan lingkungan sekitarnya bahwa karyanya akan menjebol Mizan (percetakan yang terkenal pada waktu itu). Kun fa yakun, ketika Allah berkehendak untuk mengangkat derajat seseorang, maka tidak akan ada yang bisa menghalanginya. Itulah yang terjadi pada beliau. Karya pertamanya memang diterbitkan oleh percetakan Mizan.

M. Guntur Syaifullah, kamerawan liputan 6 SCTV, yang sudah mempersembahkan dedikasinya selama sebelas tahun di stasiun televisi itu. Sebelas tahun bukan waktu yang sebentar untuk perjalanan karir seorang kameramen. Sosoknya tak begitu dikenal, tapi semenjak ada musibah kapal Levina yang terbakar, nama beliau menjadi perbincangan dimana-mana. Sosok yang menjadi korban ketika sedang meliput di kapal itu pasca bencana, dikenal sebagai seorang yang pantang mengeluh, bersahaja, sederhana, dan dicintai oleh rekan kerja dan keluarga, juga sosok yang bertanggung jawab, sampai di akhir hidupnya dia tetap kameranya yang berisi dokumen-dokumen penting.  

Kisah-kisah yang diungkapkan, cukuplah membuat kita belajar, bahwa moment itu dapat kita usahakan, dapat kita bentuk, bukan kita tunggu kedatangannya dari langit tanpa ada selendang bidadari yang mengantarkannya. Alias ujug-ujug datang darimana tanpa usaha dari yang si empunya.

Bersegeralah untuk Meniti Jalan ke Syurga

Saudaraku, sering kita berkata atau berkeinginan untuk ke syurga, tempat peistirahatan abadi di rumah yang kekal. Tapi tahukah bahwa kenikmatan abadi itu tidak selamanya dilapisi oleh hal yang nikmat secara duniawi. Dia dilingkupi oleh hal-hal yang dalam tanda kutip berat. Sebut saja salah satu contohnya,

“Tetapi dia tidak menempuh jalan yang mendaki dan sukar?  Dan tahukah kamu apakah jalan yang mendaki dan sukar itu? (yaitu) melepaskan perbudakan (hamba sahaya), atau memberi makan pada hari terjadi kelaparan, (kepada) anak-anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir. Kemudia dia termasuk orang-orang yang beriman, dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang. Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan.” (QS. Al Balad: 11-18)

Bergegaslah untuk meniti jalan itu, dengan jiwa yang berani seperti seorang super hero minimal bagi diri kita sendiri, dan bagi ummat tentunya. Dan tetaplah Allah SWT menjadi tujuan utama.
Waallahu'alam bishshowab.

..................................................................................................................................................

Tulisan ini sudah pernah terbit di Bening jaman dulu (lupa saya kapannya), biar nggak kececer, saya kumpulkan di sini ja y. sip...sip... hehe:)

Komentarnya:

syabli menulis on Mar 7, '09
tak bisa saya baca... yang keluar kode-kode html
ada sih sebagian, tapi karena banyakan kode jadi gak baca

creativeidea menulis on Mar 7, '09
syabli} berkata
tak bisa saya baca... yang keluar kode-kode html
ada sih sebagian, tapi karena banyakan kode jadi gak baca
matur tq, nanti dikoreksi lagi. syukron

syabli menulis on Mar 7, '09
matur tq, nanti dikoreksi lagi. syukron
mungkin gak juga, ada banyak faktor. bisa jadi di komputer ini ana gak bisa baca.... buktinya akh gani dan mas adam bisa baca tuh.
creativeidea
creativeidea menulis on Mar 7, '09
syabli} berkata
mungkin gak juga, ada banyak faktor. bisa jadi di komputer ini ana gak bisa baca.... buktinya akh gani dan mas adam bisa baca tuh.
lho, lagi OL ya? di Markaz ya.
iya, ana juga barusan buka, bisa tuh.
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar