Sore itu sang Ustadz mempersiapkan diri pergi tukang cukur rambut di pasar kota. Aneh, padahal bisa cukur rambut di dekat rumah. Tapi Ustadz jarang sekali cukur di dekat rumah, malah lebih memilih bercukur di pasar. Beliau gemar sekali ke pasar, entah membeli sayur untuk dimasak oleh istri tercinta, atau hanya sekadar membeli buah… tapi tidak aneh pikir ustadz. Sambil menyelam minum air, sambil silaturahim sama orang-orang di pasar.
Begitu pun hari ini, Ustadz memasuki tempat 3 x 4 itu… sementara riuh pasar di luar, terjadi percakapan sang ustadz dengan sang tukang cukur (sebutlah pak Amal) sambil pak Amal mencukur rambut ustadz.
Setelah bincang ngalor-ngidul, bertanya soal pembangunan jalan yang tidak selesai-selesai, pak Amal berkata, “Pak, mau nggak ikut ngaji?” Sang Ustadz agak terkeut, “Nggak kebalik nih, harusnya Ane yang ngajak,” katanya di dalam hati. Tapi Ustadz tidak menampakkan keterkejutannya.
Pak Amal terus mengoceh, “Mau ya pak. Saya kemarin diajak dengan ustadz Mahmud. Orangnya baik lho Pak… dijamin Bapak tidak menyesal…”
MasyaAllah, ternyata temannya sudah datang ke sini, gumam Ustadz lagi di dalam hati kembali. Ustadz hanya tersenyum menanggapi pak Amal yang tidak kalah dengan jurkam (baca: juru kampanye). “Ayolah Pak, pokoknya Bapak harus datang. Selasa malam di sawah lebar, pengajiannya di tempat Ustadz Salim. Kata Ustadz Mahmud, Ustadz Salim itu baik orangnya. Saya juga percaya pak, itu yang diceritakan orang-orang di sini. Biarpun Saya nggak tahu tampangnya. Percaya deh Pak.”
Astaghfirullah, Subhanallah, Allahu Akbar. Ustadz terkejut namanya disebut-sebut di depan batang hidungnya sendiri. Sang Ustadz tersenyum dan berkata di dalam hati, “Belum tahu dia. Hehehe.”
“InsyaAllah saya akan datang Pak,” kata Ustadz Salim dengan tersenyum. “Iya. Beneran lho Pak, Saya tunggu,” pak Amal masih berapi-api.
***
Orang-orang sudah berdatangan memnuhi ruang kelas SD IT yang dipakai untuk pengajiannya, salah satunya adalah pak Amal. Pak Amal gelisah, celingak-celinguk, mencari sosok hasil iklannya tempo hari di tempat dia bekerja. Jabat tangan dan salam dari bapak-bapak anggota pengajian ditanggapinya dengan separuh hati. "Mana sih ya?” katanya sambil mencari-cari.
Sosok yang dicari akhirnya dating. “Akhirnya bapak datang juga,” kata pak Amal sambil menyalami Ustadz Salim. “Assalamu’alaikum,” kata Ustadz Salim sambil tersenyum.
MC mempersilahkan forum untuk tenang. Acara bergulir satu demi satu, mulai pembukaan dan tilawah. Dan ketika MC mempersilahkan Ustadz Salim memberikan taujihnya (baca: nasehat). Sosok di samping pak Amal langsung mengambil tempat di samping MC. Wajahnya yang bersih menuturkan pentingnya Ukhuwah Islamiyah. Tinggalah pak Amal dengan muka tersipu malu menatap Ustadz Salim dengan kagum dan berujar, “Allahu Akbar.”
Kisah nyata di sebuah daerah dakwah, seperti dituturkan seorang teman,
beserta beberapa penyesuian
.........................................................................................................
Postingan 24 Juli 2009, pk 9:53 am. Komentar-komentarnya:
creativeidea menulis on Jun 22, '10 beneran jadi ukhti. Pak Amal sekarang kader yg dpt dhandalkan. hehehe ^^ |
creativeidea menulis on Jun 22, '10 dari raut mukanya sih gitu. hanya dia, ust.Salim, dan Allah yg tahu saat itu ^_^ |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar