"Ibu, da tarbawi baru?"
"Nggak ada mb, coba lihat di sana," katanya sambil menunjuk ke arah kantor pos pusat.
OK, i'm comming. pokoknya harus dapat. Soale Tarbawi baru kemarin Ibu bawa untuk teman perjalanan. bayang pun, ibu harus transit 3 kali, dari Yogya ke Singapure, terus ke Perth, trus baru ke Adelaide. Subhanallah, kapan ya bisa ke LN
Kembali ke cerita memburu Tarbawi... Pas dah nyampe tempat yang ditunjukkan ibu tadi. Nggak bisa langsung nanya, soale ibu penjualnya lagi cerita seru. Mau nggak mau biarpun selintas tetap aja kedengaran.
Ya sudah nunggu aja bentar sambil lihat-lihat majalah bagus, I get it! Sabili... dah lama nggak baca... bagus nih judulnya BUMI HANGUS HABITAT MUJAHID, DAKWAH JANGAN TIARAP. Harus dibaca
Asyik lihat-lihat majalah keren, tiba-tiba kedengaran suara yang pronounsationnya K-U-D-U-N-G alias KERUDUNG. lho... lho ada apa nih, jadi nimbrung deh, masalah sensitif soale, palagi ibunya am.
"Apa eh bu? Kok ono kudung, kudung?" -nggak banget nih bahasa jawanya
-
"Ini lho Mbak." Pake bahasa indonesia aja ya, dari pada amburadul
"Tadi tu ada mbak-mbak yang nanya -nanya majalah, terus dia sambil bawa kresek (kantong plastik). Nah pas saya meleng, tangan mbaknya dah 'grayang-grayang', nggak satu kali tu mb. Tiga kali pas saya hitung."
"Pas saya tanya ke mbak nya. Dia pake sumpah sumpah segala, mau nangis. Ya sudah, saya lepasin aja. Padahal kelihatan lho mbak, tiga yang diambilnya."
Astghfirullah, Ramadhan gini.
"Iya lho mb, padahal kudungan tapi kok ya," kata ibunya lagi
Aku hanya bisa diam. Tidak habis pikir, padahal tidak sampai dua meter ada pos polisi yang nangkring.
Saudaraku, dimana pun engkau berada, tahukah engkau, sepeninggal jejakmu di lapak ibu penjual majalah itu, sepeninggal engkau dilepaskan oleh ibu itu, ibu penjual itu terus saja bercerita pada siapa pun yang ditemuinya (sepengamatan saya). Dia terus bercerita, dia menyayangkan tindakanmu.
Dia menaruh kepercayaan pada kerudungmu wahai saudariku. Tapi kau telah menorehkan luka di sana.
Begitulah lisan, salah satu media publikasi paling manjur di sejarah peradaban manusia. Masuknya Salman Al Farisi ke dalam pelukan Islam karena lisan seseorang menceritakan betapa mengagumkannya akhlaq Rasulullah. Umar bin Khattab luluh hatinya ketika mendengar lisan saudarinya melantunkan Al Qur'an. Negeri ini juga berbondong-bondong mencari tokoh muda ketika PKS mewacanakan Pemimpin Muda.
Tidak hanya kemashlahatan yang bisa dibangun oleh lisan, kemungkaran juga manjur dipublikasikan oleh lisan. salah satu contohnya, ketika Theodore Hezl mengisukan dan mewacanakan sebuah negara untuk bangsa yahudi, terbentuklah Zionis, biang kerok konspirasi. Atau wacana tentang ghozul fikr.
Bahkan Isu dan mitos pun bisa menjadi kepercayaan yang mengakar. Begitu dasyatnya fitnah lisan.
Semoga lisan ini bisa menyejukkan dan mencerahkan. Semoga menjadi berlian (ketika diamya adalah emas). Amin...
........................................................................................................
Postingan 16 September 2009. pk 5:16 am . Komentar:
"Nggak ada mb, coba lihat di sana," katanya sambil menunjuk ke arah kantor pos pusat.
OK, i'm comming. pokoknya harus dapat. Soale Tarbawi baru kemarin Ibu bawa untuk teman perjalanan. bayang pun, ibu harus transit 3 kali, dari Yogya ke Singapure, terus ke Perth, trus baru ke Adelaide. Subhanallah, kapan ya bisa ke LN
Kembali ke cerita memburu Tarbawi... Pas dah nyampe tempat yang ditunjukkan ibu tadi. Nggak bisa langsung nanya, soale ibu penjualnya lagi cerita seru. Mau nggak mau biarpun selintas tetap aja kedengaran.
Ya sudah nunggu aja bentar sambil lihat-lihat majalah bagus, I get it! Sabili... dah lama nggak baca... bagus nih judulnya BUMI HANGUS HABITAT MUJAHID, DAKWAH JANGAN TIARAP. Harus dibaca
Asyik lihat-lihat majalah keren, tiba-tiba kedengaran suara yang pronounsationnya K-U-D-U-N-G alias KERUDUNG. lho... lho ada apa nih, jadi nimbrung deh, masalah sensitif soale, palagi ibunya am.
"Apa eh bu? Kok ono kudung, kudung?" -nggak banget nih bahasa jawanya
"Ini lho Mbak." Pake bahasa indonesia aja ya, dari pada amburadul
"Tadi tu ada mbak-mbak yang nanya -nanya majalah, terus dia sambil bawa kresek (kantong plastik). Nah pas saya meleng, tangan mbaknya dah 'grayang-grayang', nggak satu kali tu mb. Tiga kali pas saya hitung."
"Pas saya tanya ke mbak nya. Dia pake sumpah sumpah segala, mau nangis. Ya sudah, saya lepasin aja. Padahal kelihatan lho mbak, tiga yang diambilnya."
Astghfirullah, Ramadhan gini.
"Iya lho mb, padahal kudungan tapi kok ya," kata ibunya lagi
Aku hanya bisa diam. Tidak habis pikir, padahal tidak sampai dua meter ada pos polisi yang nangkring.
Saudaraku, dimana pun engkau berada, tahukah engkau, sepeninggal jejakmu di lapak ibu penjual majalah itu, sepeninggal engkau dilepaskan oleh ibu itu, ibu penjual itu terus saja bercerita pada siapa pun yang ditemuinya (sepengamatan saya). Dia terus bercerita, dia menyayangkan tindakanmu.
Dia menaruh kepercayaan pada kerudungmu wahai saudariku. Tapi kau telah menorehkan luka di sana.
Begitulah lisan, salah satu media publikasi paling manjur di sejarah peradaban manusia. Masuknya Salman Al Farisi ke dalam pelukan Islam karena lisan seseorang menceritakan betapa mengagumkannya akhlaq Rasulullah. Umar bin Khattab luluh hatinya ketika mendengar lisan saudarinya melantunkan Al Qur'an. Negeri ini juga berbondong-bondong mencari tokoh muda ketika PKS mewacanakan Pemimpin Muda.
Tidak hanya kemashlahatan yang bisa dibangun oleh lisan, kemungkaran juga manjur dipublikasikan oleh lisan. salah satu contohnya, ketika Theodore Hezl mengisukan dan mewacanakan sebuah negara untuk bangsa yahudi, terbentuklah Zionis, biang kerok konspirasi. Atau wacana tentang ghozul fikr.
Bahkan Isu dan mitos pun bisa menjadi kepercayaan yang mengakar. Begitu dasyatnya fitnah lisan.
Semoga lisan ini bisa menyejukkan dan mencerahkan. Semoga menjadi berlian (ketika diamya adalah emas). Amin...
........................................................................................................
Postingan 16 September 2009. pk 5:16 am . Komentar:
yusufalbahi menulis on Sep 16, '09 Wow.. SUbhanallah.. BTW.. ibunya ke Perth ngapain ? |
creativeidea menulis on Sep 25, '09 bukan bu kandung ane akhi. ada seorang ummahat bantul yang lagi liburan mengunjungi suami beliau ^_^ |
yusufalbahi menulis on Sep 25, '09 ooh... Keren2... :) |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar