Kututurkan padamu kisah tentang seorang anak manusia yang hidup di abad millennium ketiga. Ketika semua Negara berspekulasi tentang krisis moneter yang melanda sebagian bangsa, dia tetap asyik dengan apa adanya dia. Melenggang bersama sepeda jengkinya, mengayuhnya sepanjang desa tempat kelahirannya, menyapa setiap orang, membantu seorang tua susah payah mendorong gerobak, berat gerobaknya ditaksir empat atau mungkin sepuluh kali lipat berat badan sang renta, menuntun jengkinya ketika bertemu dengan rombongan anak-anak kecil.
Ketika orang di dunia berkilah dan berpendapat soal global warming. Dia asyik melestarikan areal hijau di halaman depan dan belakang rumahnya, padahal tetangga kanan dan kirinya sibuk berlomba-lomba memplester ruang serap air huniannya. Dia sangat menjaga konsumsinya, menolak dengan halus ketika barang-barang beliannya harus ditempati dengan kresek oleh penjualnya. “Insya Allah muat pak di tas saya, nggak usah pake bungkus,” begitu katanya.
Ketika masyarakat asyik bergunjing tentang RUU APP, dia sudah membudayakan pada anak-anak dan istrinya, untuk menutup aurat dan menjaga kemaluannya. “hijab adalah puncak keimanan seorang wanita. Dia bisa menghargai dirinya sendiri, dan insyaAllah Allah akan berlaku sama kepadanya.” Berhasil membuat seorang tetangganya nekad ingin berhijab walaupun keluarga menentang syariat. Karena dia yakin Allah akan berbuat sama dengannya bahkan bisa berkali-kali lipat lebih baik atau lebih pedih, aksi dan reaksi, cukup adil bukan.
Masih banyak fragmen-fragmen kehidupan yang terlihat asing di mata manusia kebanyakan, tapi mengandung nilai kebenaran di dalamnya, asing, tanpa teman. Tapi bukankah sama seperti Islam yang datang dan dianggap asing oleh masyarakat tempo dulu dan akan berlalu dengan keterasingan pula.
Ketika konspirasi seperti makanan nikmat dan lezat di mata orang kebanyakan, tidak salah. Karena janji Allah benar adanya, bahwa ada masanya kaum penindas akan berkuasa di dunia. Tapi tenang saja, akan ada saatnya semua itu berakhir. Dan berganti dengan kemenangan Islam di muka bumi.
Dan kita tidak hanya menunggu sampai Alloh segerombolan burung seperti ketika Alloh melumat pasukan Abrahah. Perlu lompatan-lompatan brilian untuk menyambungkan akson dan dendrit, sehingga memperbanyak sinaps. Perlu kendaraan hebat untuk meluluhlantakan agresor-agresor penjajah Islam. Perlu mimpi-mimpi besar pemudanya yang diikuti langkah nyata untuk meraihnya, merubah iming-iming kemenangan dan kejayaan menjadi mozaik-mozaik kegemilangan yang hidup. Lalu pertanyaannya, berada dimanakah kita?
.........................................................................................................................
Postingan 6 Maret 2009, 7:06 am
Tidak ada komentar:
Posting Komentar