Ruang ini mengecil tidak seperti biasanya. Padahal tidak ada barang yang bertambah, masih tetap sama dengan pekan kemarin, karpet, white board, dua rak buku sedang, dengan buku-buku penuh di dalamnya. Udaranya juga terasa panas dan menggerahkan, tidak seperti biasanya. Karena tempat ini biasanya sangat menyejukkan, ada angin sepoi-sepoi dari dua jendela besar, ditambah view taman dan gemericik air kolam yang dapat membuai siapa saja yang bertandang.
Tapi tidak kali ini. Itu semua tak berhasil membuat dia tenang. Hatinya gelisah. Sikapnya terasa salah setiap detik. Jantungnya berdetak lebih cepat daripada biasanya. Lap… dap… lap… dap… Teh yang disuguhkan belum juga diminumnya. Padahal biasanya bisa nambah tiga sampai empat kali. Pisang goreng yang dari tadi menari-nari juga dicuekkin, padahal dia tidak pernah tahan dengan godaan pisang berlumur tepung itu. Dia sibuk menenangkan hatinya.
Ada waktu yang kosong sejenak. Astaghfirullah, Fulan baru menyadari bahwa gurunya telah duduk di hadapannya. Dan bismillah… “Ustadz, Ana siap nikah.” Akhirnya kata-kata itu meluncur dari lisannya. Ada jeda waktu lagi. “Bolehkah?” tanyanya dalam hati… Sang guru malah beranjak dari duduknya menuju rak buku yang tak jauh darinya. Sembari memilih buku, beliau berkata, “Dengan akhwat sekampus ya?”
Anak panah itu melesat tepat sekali ke sasaran. Wah, kok… “Eng… iya Ustadz…” kata Fulan memberanikan diri. “Tidak boleh!” katanya tegas. “Hah, kenapa Ustadz?” katanya dengan nada protes.
“Haram!” kata beliau lagi. Hati sang Fulan makin tersentak, darimana dalilnya nih ustadz… Sang guru kembali duduk dengan tenang. “Kenapa haram ustadz?” sang Fulan masih tidak terima penjelasan sang guru.
“Iya, nikah dengan akhwat sekantor aja nggak boleh, apalagi sekampus. Kebanyakan itu.” Sang guru menyeruput tehnya, tetap dengan tenang.
Tapi tidak kali ini. Itu semua tak berhasil membuat dia tenang. Hatinya gelisah. Sikapnya terasa salah setiap detik. Jantungnya berdetak lebih cepat daripada biasanya. Lap… dap… lap… dap… Teh yang disuguhkan belum juga diminumnya. Padahal biasanya bisa nambah tiga sampai empat kali. Pisang goreng yang dari tadi menari-nari juga dicuekkin, padahal dia tidak pernah tahan dengan godaan pisang berlumur tepung itu. Dia sibuk menenangkan hatinya.
Ada waktu yang kosong sejenak. Astaghfirullah, Fulan baru menyadari bahwa gurunya telah duduk di hadapannya. Dan bismillah… “Ustadz, Ana siap nikah.” Akhirnya kata-kata itu meluncur dari lisannya. Ada jeda waktu lagi. “Bolehkah?” tanyanya dalam hati… Sang guru malah beranjak dari duduknya menuju rak buku yang tak jauh darinya. Sembari memilih buku, beliau berkata, “Dengan akhwat sekampus ya?”
Anak panah itu melesat tepat sekali ke sasaran. Wah, kok… “Eng… iya Ustadz…” kata Fulan memberanikan diri. “Tidak boleh!” katanya tegas. “Hah, kenapa Ustadz?” katanya dengan nada protes.
“Haram!” kata beliau lagi. Hati sang Fulan makin tersentak, darimana dalilnya nih ustadz… Sang guru kembali duduk dengan tenang. “Kenapa haram ustadz?” sang Fulan masih tidak terima penjelasan sang guru.
“Iya, nikah dengan akhwat sekantor aja nggak boleh, apalagi sekampus. Kebanyakan itu.” Sang guru menyeruput tehnya, tetap dengan tenang.
Seperti diceritakan seorang teman, dengan beberapa penyesuaian
....................................................................................................
Postingan 24 Juli 2009, pk 9:46 am. Ending tulisan ini sudah diedit berdasarkan masukan akh syabli (salah satu yang berkomentar atas tulisan ini). syukron akh syabli atas masukannya.
Tanggapan saya atas cerita teman ini. Siapa yang bisa memprediksi jodoh, karena dia adalah settingan Alloh atas seorang hamba. Siapa dan kapannya telah tertulis. Hanya bagaimananya yang perlu kita ikhtiarkan, cara terbaik yang bisa kita lakukan. Karena cita-cita kita tak hanya di dunia. Sepakat?
Komentar:
creativeidea menulis on Jul 24, '09 akashiroo} berkata btw, ana pernah ngobrol kayak gitu dengan seorang kawan... eh, dia nanggepin serius sampe-sampe ngeluarin dalil... kacawwww.... pesen u teman antum, "calm down plz" |
ya... pas tau ana cuma nggojeg... dia jadi malu sendiri... tell me why gitu loh... tell me why = telmi... |
islamicyoung menulis on Jul 24, '09 bahasa indonesia begitu ambigu |
akashiroo} berkata ooooOoooOoooo.. He... Afwan.. SYukron... |
creativeidea menulis on Jul 24, '09 lho? |
sucilestiana menulis on Jul 24, '09 Hahahah.. Widya bisa aja.... aku juga pernah denger cerita ini... *sambil mikir... emng ada Ikhwan/ akhwat yg mau nikah satu kampus* kyknya berani u/ SATU aja susahnya bukan main u/ memulai hehehehehehe |
creativeidea menulis on Jul 24, '09 sucilestiana} berkata hehehe ^_^ |
sucilestiana menulis on Jul 24, '09 what is Distortion??? Distorsi itu adalah salah satu kosakata u/ menganalisis Laporan Keuangan |
sucilestiana} berkata distorsi... ibarat kalo ada sinyal radio utama yang berinterferensi dengan sinyal radio sekunder sehingga menurunkan kualitas sinyal radio utama, itu namanya distorsi yang menyebabkan sinyal utama tidak dapat diterjemahkan dengan baik. |
creativeidea menulis on Jul 24, '09 sabar ukhti wa akhi. apa pun yang terjadi, YAKIN Allah sebenarnya telah memantaskan kita untuk melaluinya. Apa pun itu. *untuk ane juga nih* |
creativeidea menulis on Jul 26, '09
Tidak ada komentar:
Posting Komentar