Selasa, 26 Februari 2013

[Tiga Suluh] Untukmu Palestin


Di Turki, masalah Palestin adalah masalah bersama. Masalah yg tidak hanya bertengger di masjid-masjid, ruang-ruang pelatihan, 3x4, 3x5, atau berapa kali berapa pun ukurannya. Masalah Palestin merupakan obrolan warung kopi, yang tidak tabu. Semua membicarakannya, anak-anak, pemuda, orangtua. Berkurudung atau pun tidak, pake tindik atau pake cocok hidung. Palestin topiknya. Tak heran mavi marmara menjadi realita.

Pernah juga banyak orang (karena kulupa sudah berapa org berpesan padaku, yang kuingat, banyak orang) berkata padaku dl berbagai kesempatan. Ketika kau memberikan bantuan pada Palestin, sesungguhnya kau memberikan bantuan pada dirimu sendiri. Karena Palestin adalah 'kita'. Eksistensi dan pewarisan.

Bantuan-bantuan itu seperti minyak menyalakan suluh menerangi masjid Al-Aqsa. Kata banyak sumber kepadaku ada tiga hal yang bisa kita lakukan u berbondong-bondong menerangi Al-Aqsa, ingat nomor tdk menunjukkan urutan atau prioritas (karena aku blm meneliti kebutuhan prioritasx^^). Dan itu juga masih menjadi Pe Er besar bwtku u mengamalkannya.

Pertama, agen MLM Palestin. Ya, kemana pun kita pergi sedapat mungkin kita sosialisasikan Palestin. Agar mbah tahu apa itu Palestin. Agar encing mendukung aksi-aksi pro Palestin. Agar nona menangis ketika melihat gambar korban-korban di Palestin. Agar pemuda malu kalau nggak tahu tentang Palestin. Agar ayah antusias mengajak anak-anaknya ngencleng buat Palestin. Agar bunda antusias bercita-cita mempersembahkan mujahid bagi Palestin. Agar bocah-bocah merasa punya saudara-saudara hebat di Palestin. Agar presiden, ekonom, politikus, budayawan, dokter, perawat, aktor, model, sutradara, produser, petani, guru, wartawan, fotografer, supir angkot, polisi, pedagang,  nelayan, dll ngeh dengan Pelestin.

Kedua, Dana (Duit). Haru rasanya ketika membaca berita ttg saudara qt di Idonesia ini yang menyumbangkan bumbu pecel di salah satu acara galang dana Palestin. Akhirnya bumbu pecel merk ' i.a Ikhlas' itu dilelang dan goal beberapa juta rupiah. Allahu Akbar!

Informasi setahun yang lalu, harga telurnya saja (dari terowongan bawah tanah), bisa seharga 20 ribu rupiah per butirnya. Ntah sekarang. Apalagi minyak,daging sapi, alat-alat pendidikan, alat-alat kesehatan yang logikanya lebih mahal dari sebutir telur.

Ketiga, Do'a. Senjata paling pamungkas pada ukhuwah sesama muslim. Senjata yang bisa kita sumbangkan kapan saja tanpa chek point dari zionis dan mesir. Senjata yang langsung wus-wus sampai di tempat insya Allah. Senjata yang mempunyai banyak dampak positif bagi pengirim dan penerimanya. Dan yang pasti tanpa bayar rupiah, dollar, euro, atau sekel.

Yang lebih penting dari itu semua, dapatkah kita bayangkan, apa sebenarnya alasan penduduk Gaza tetap bertahan di bumi jihad tersebut? Masalah harga diri Islam pasti. Masalah aqidah pasti. Dan satu yang disampaikan Ismail Haniya dalam pidatonya ketika bunda Yoyoh bersilaturahim juli tahun 2010. Inti kata-kata yang bisa kurekam,  Kami bertahan di sini untuk menunaikan hak kalian. Karena Al-Quds adalah milik bersama, milik kalian juga, maka menjadi kewajiban kami sebagai saudara kalian untuk menjaganya. Masya Allah...

Tegalrejo, 7 Mei 2011


Tidak ada komentar:

Posting Komentar