Hmm... Termenung lama sekali ketika membaca kalimat "Setiap yang halal tidak memerlukan yang haram". Satu kalimat bermakna dalam. Berkelebat, sekadar mampir, atau bahkan menghuni pikiran dan rasa. Tapi semua memiliki makna sama, menghentak jiwa, seperti palu godam lumpuhkan lawan, "WAKE UP!"
Sering sekali toleransi terucap mengatasnamakan kehalalan. Ah, sangat sering bahkan. Abaikan panggilan hati yang gundah rasakan ragu. Padahal tinggalkan keraguan, keyakinan telah menunggu di sisi lainnya.
Atau sering mempersulit padahal ada kemudahan di sebelahnya. Bukankah tinggal di tempat yang menyengsarakan itu pahit, memakan duri itu sakit, dan meminum tuba itu perih. Tapi kenapa, atas nama kemanusiawian tetap katakan inilah aku, jangan pernah Kau atur dan suruh aku. Padahal di sebelah pahit, sakit, dan perih itu sudah ada manis, luas, dan lega yang tersedia.
Tegalrejo, 19 Februari 2012
*salahsaturenunganhasilmembacaartikeldenganjudulyangsamadihasanalbannadotcom*

Tidak ada komentar:
Posting Komentar