Selasa, 12 November 2013

SUARA TAK PERNAH HILANG

SUARA ITU TAK KAN PERNAH HILANG. dia hanya mengecil frekuensinya untuk bisa didengar oleh kita, manusia... itu ilmu yang kudapat ketika sekolah... guruku kembali menerangkan, suara soekarno dan bung hatta ketika memproklamasikan kemerdekaan negara ini juga tak akan pernah hilang.

Wauw... aku terpesona penjelasan guru-ku tersebut. seingatku pelajaran ini pernah disinggung sedikit-sedikit ketika ku sekolah dasar. tetapi semakin mendalam ketika tingkat pertama dan tingkat atas. dan entah kenapa aku mematung dan merespon cepat ketika tingkat atas... sungguh memesona. guru dan cara menerangkan... hmm...keduanya memesonaku dulu :D sekarang juga masih tetap dung :D

Coba merefleksikan saat ini... sungguh kalimat tersebut bisa membuat ku terdiam, bahkan mematung. salah satu kalimat yang sepersekian detik dapat meruntuhkan kesombongan diri sekaligus menginspirasi diri... berkatalah yang baik atau diam, begitu juga Rasulullah ajarkan.

ketika membayangkan ini, keringat dingin bisa langsung keluar dan pucat pasi. betapa tidak, apa jadinya ketika manusia dengan izin Allah menemukan alat yang mampu mendeteksi suara yang sudah tak terdengar itu... padahal diri ini... hmm...tak seberapa amalnya, itu pun belum ada jaminan diterima atau tidak. padahal ucapan kasar, umpatan, makian, hardikan, keluh kesah, cibiran mungkin saja telah menutupi kulit bahkan bertingkat-tingkat.

BERHENTI! tapi kita tak kuasa menghentikannya. itu baru di dunia, yang sangat tak seberapa. masih ada akhirat... dimana Allah yang punya Kuasa... Allah mampu membeberkan sedetil mungkin, setiap detik apa yang diri ini lakukan. Apa jadinya? di saat semua manusia berkumpul... jangan bayangkan hanya satu kelas, satu rt, satu kabupaten loh... ini semua manusia dari awal penciptaan... Astaghfirullah... :'(

Betapa takutnya diri. sangat memalukan pasti. Yup... memang sangat memalukan! tapi di samping itu, ada satu cahaya harapan. Bahwa ternyata Allah sangat senang dengan hambanya yang bertaubat, taubat sebenar-benarnya. Pintu itu Allah buka sampai Allah memanggil diri ini, mencabut ruh dan memperjalankan ke fase setelah dunia. Allah juga akan melindungi aib diri ini ketika ku lindungi aib saudaraku di bumi ini. dan Allah telah kabarkan di nama-namaNYA. bahwa Allah juga Maha Pengampun, Penyayang, Allah adalah sebaik-baik tempat penjagaan... Allah tidak akan dzalim kepada mahlukNYA ^_^ Rahmat Allah sangat besar, sampai ku tak sanggup memikirkan besarnya ^_^

Hmm... boleh saja diri ini takut tentu saja berbalut harap. tekan tombol Refresh! azamkan pantang berkata sia-sia! Ayo... berkatalah yang baik atau diam! Ayo... bersegeralah wahai diri ke dalam ampunan Allah! Susah...? Ya pasti ada kerja kerasnya toh. Sedikit demi sedikit tak papa :D Tapi terus menerus dan berkekalan :D Semaangaat ^_^

Argomulyo, 29/10/13

Wardah 327

wardah 327... hmm, hadiah spesial dari Allah untukku. di waktu yang spesial. ada fragmen sejarah dasyat yang melatarbelakanginya... pembuktian cinta Nabi Ismail dan Nabi Ibrahim yang mengguncang Arsy Allah... ketaatan yang jadi kebutuhan memang pembuktian cinta yang aduhai... sempurna dan memesona. biarpun ketaatan itu tidak berpengaruh pada kebesaran nama Allah. tapi Allah tetap memuji pembuktian cinta tersebut...

kembali ke wardah 327. aku juga merasa Allah menghadirkan banyak sekali hadiah yang kontan, langsung di depan mata. Duhai Allah, di saat orang lain mengorbankan yang terbaik darinya, KAU malah berikan diri ini hadiah tiada tara... betapa malu diri ini.

banyak sekali guru-guru yang berdatangan tanpa kuminta. Allah yang menggerakkan kaki-kaki, jemari-jemari, dan lantunan doa-doa itu... tampak maupun tidak.

Tak bisa kututurkan satu persatu... hanya maaf dan terima kasih yang dapat terucap. Jazakumullah khoir. Semoga Allah-lah yang membalas dengan sebaik-baiknya pembalasan, penjagaan, dan perjamuan.

Allahumma aamiin

Argomulyo, 29/10/13

Ketika Mata Tak [Belum] Bisa Terpejam

Hhh... Ketakutan seseorang yang matanya belum bisa terpejam adalah jatuh dalam kesia-siaan, atau lebih jauhnya jatuh dalam kemaksiatan. 

Karena dalam "kesendirian" itu adalah pembuktian sebenar-benarnya.

Ketika tak bersama kerabat, tak bersama sejawat, peluang untuk meng"apasaja"kan terbuka lebar.

Harus kuatkan pegangan, kuatkan tali kekang.

Agar lulus! Agar berhasil di fase Tak [Belum] Bisa Terpejam ini.

Habis satu pemenuh harus ada pemenuh bermakna lainnya.

Bosan dengan abjad harus beralih ke dalam angka dan
mbol...

Yang penting harus ada kebermaknaan yang dieja.

Lebih mudah menata wajah, kata, dan hati ketika bersama.

Maka "kesendirian" menjadi pembuktian penataan wajah, kata, dan hati hanya sekadar fondant atau isi...

Banyak-banyaklah meminta dengan sangat wahai diri...

Kepada Yang Maha, agar berkenan menetapkan cinta ini di keramaian dan kesendirian.

Senantiasa...

Hingga perjumpaan tersebut menjadi menyenangkan tak terkira.


Argomulyo, 24 Oktober 2013 02:23