jika kamu belum bisa untuk menata dirimu
sendiri
janganlah mencoba untuk menata diri orang lain.
Setelah membaca status salah seorang aktivis dakwah dengan redaksi
seperti di atas. Tergelitik hati untuk berkomentar, hanya karena ghiroh (rasa
cemburu itu muncul) terhadap dien ini.
Hmm... coba deh kita kembalikan ke tujuan hakiki itu sendiri, Allah
swt, tak perlu kita pikir orang lain spt apa, akan Ada
sensasi yang membahagiakan ketika kita jatuh dan bangkit. Tak kan ada habisnya
ketika diri ini sibuk hanya menata diri,
Tak kan ada habisnya juga ketika bertujuan kepada selain Allah, ada saja yang
kurang.
Menata orang lain (soleh sosial) adalah bagian ikhtiar untuk senantiasa menata diri sendiri (sholeh pribadi). Dan menata diri sendiri adalah bagian kita memperbaiki kualitas
kita untuk menata orang lain. So...Keep moving :) Semaangaaat… :D Allahu’alam
Sebenarnya apa saja sih peranan kita seorang muslimah??? Apa yang penting
baiiiik pribadi dulu tanpa berkontribusi untuk umat (masyarakat)? Atau yang
penting masyarakat dulu deh, diri ini ntar-ntar aja? Ataukah kedua-duanya
berjalan?
Ternyata di dalam Islam sendiri, bagi
seorang muslimah tidak dikenal fungsi ganda ataupun fungsi superior dan
interior apalagi ordinat dan subordinat. Melainkan hanya mengenal fungsi Asasi
dan fungsi kontemporer.
Apa saja fungsi asasi muslimah? Yaitu
sebagai seorang hamba Allah, anak, istri, ibu, dan anggota masyarakat. Nah,
kelima hal tersebut melekat dalam diri seorang muslimah tanpa terkecuali dan
tanpa kita minta. Sudah dari sono, bahasa sekarang mah :D
Nah, ketika Allah memberikan kelebihan pada
muslimah. Muslimah bisa memilih peran kontemporernya, peran yang diharapkan
dapat mengoptimalkan peran asasinya. Sebagai apa saja peran kontemporernya
tersebut? Muslimah bisa memilih menjadi mutsaqqafun (cendikiawan), mutkhashishun
(spesialis), mudarrabun (pelatih), atau mujahhazun (praktisi).
Bagaimana menjalankan fungsi tersebut? Kata ustdazah Anis Biyarwati
kemarin ketika beliau ditanya salah satu peserta, “Ada ndak tips-tips untuk bagaimana ustdzah menjalankan fungsi asasi dan fungsi kontemporer secara
beriringan?” (cttn: beliau adalah seorang ibu dengan 8
orang anak, post graduated S3 Airlangga, ketua bidang perempuan PKS) Beliau
malah bingung mau jawab apa, dan inti kata beliau, “Saya bersyukur Allah
memudahkan untuk kami melakukannya. Salah satu kunci dari semuanya yang yakin
saya pegang ada di surat Muhammad ayat 7...” Bahwa ketika kita menolong agama
Allah lillah, billah, fillah, yakin! Allah akan menolong kita dan kuatkan
pijakan kaki kita.
Allahu Akbar! Memang diri ini penuh kekurangan disana sini, namun ada satu
harapan, Allah memberikan punggung yang kuat u mengangkatnya, kaki yang kukuh u
menjalaninya, hati yang baja untuk melewatinya. Karena hakikatnya ini (fungsi
asasi muslimah) adalah kehendak Allah. ketika diri hebat dalam melaksanakannya,
bahwa semata-mata ini adalah pertolonganNya. Dan ketika diri masih tertatih di
dalamnya, sesungguhnya kepada dirilah kembali segala kekurangan. Robbana
dholamna anfusana waighlam taghfirlana watarhamna lanakunanna minal khosirin
Semoga Allah menguatkan diri u senantiasa menjadi solusi sebagai bentuk
kesyukuran kita pada Allah atas nikmat yang tak terhitung ini… Allahu’alam