Minggu, 14 April 2013

Hai!

Kepada mahluk... Mencintailah sekadarnya
Membencilah sekadarnya

Kepada mahluk...sandarkan hanya padaNYA

Karena Allah sanggup bolak-balikkan hati begitu saja
Karena sikap kita yang terlalu bersemangat u mencintai atau membenci itu....
Membahayakan!
Karena sikap kita yang tiba-tiba bersemangat atau lesu...
Membahayakan!

Allah telah jelaskan Teguh pendirian...Berkelanjutan tanpa henti....Afiliasi....dan Komitmen adalah kerja panjang, yang butuh nafas panjang... dia butuh semangat berbuat tanpa henti...

Karena Allah telah Setting (engkau) Berharga


jika kamu belum bisa untuk menata dirimu sendiri
janganlah mencoba untuk menata diri orang lain.

Setelah membaca status salah seorang aktivis dakwah dengan redaksi seperti di atas. Tergelitik hati untuk berkomentar, hanya karena ghiroh (rasa cemburu itu muncul) terhadap dien ini.

Hmm... coba deh kita kembalikan ke tujuan hakiki itu sendiri, Allah swt, tak perlu kita pikir orang lain spt apa, akan Ada sensasi yang membahagiakan ketika kita jatuh dan bangkit. Tak kan ada habisnya ketika diri ini sibuk hanya  menata diri, Tak kan ada habisnya juga ketika bertujuan kepada selain Allah, ada saja yang kurang.

Menata orang lain (soleh sosial) adalah bagian ikhtiar untuk senantiasa menata diri sendiri (sholeh pribadi). Dan menata diri sendiri adalah bagian kita memperbaiki kualitas kita untuk menata orang lain. So...Keep moving :) Semaangaaat… :D Allahu’alam

Sebenarnya apa saja sih peranan kita seorang muslimah??? Apa yang penting baiiiik pribadi dulu tanpa berkontribusi untuk umat (masyarakat)? Atau yang penting masyarakat dulu deh, diri ini ntar-ntar aja? Ataukah kedua-duanya berjalan?

Ternyata di dalam Islam sendiri, bagi seorang muslimah tidak dikenal fungsi ganda ataupun fungsi superior dan interior apalagi ordinat dan subordinat. Melainkan hanya mengenal fungsi Asasi dan fungsi kontemporer.

Apa saja fungsi asasi muslimah? Yaitu sebagai seorang hamba Allah, anak, istri, ibu, dan anggota masyarakat. Nah, kelima hal tersebut melekat dalam diri seorang muslimah tanpa terkecuali dan tanpa kita minta. Sudah dari sono, bahasa sekarang mah :D

Nah, ketika Allah memberikan kelebihan pada muslimah. Muslimah bisa memilih peran kontemporernya, peran yang diharapkan dapat mengoptimalkan peran asasinya. Sebagai apa saja peran kontemporernya tersebut? Muslimah bisa memilih menjadi mutsaqqafun (cendikiawan), mutkhashishun (spesialis), mudarrabun (pelatih), atau mujahhazun (praktisi).

Bagaimana menjalankan fungsi tersebut? Kata ustdazah Anis Biyarwati kemarin ketika beliau ditanya salah satu peserta, “Ada ndak tips-tips untuk bagaimana ustdzah menjalankan fungsi asasi dan fungsi kontemporer secara beriringan?” (cttn: beliau adalah seorang ibu dengan 8 orang anak, post graduated S3 Airlangga, ketua bidang perempuan PKS) Beliau malah bingung mau jawab apa, dan inti kata beliau, “Saya bersyukur Allah memudahkan untuk kami melakukannya. Salah satu kunci dari semuanya yang yakin saya pegang ada di surat Muhammad ayat 7...” Bahwa ketika kita menolong agama Allah lillah, billah, fillah, yakin! Allah akan menolong kita dan kuatkan pijakan kaki kita.

Allahu Akbar! Memang diri ini penuh kekurangan disana sini, namun ada satu harapan, Allah memberikan punggung yang kuat u mengangkatnya, kaki yang kukuh u menjalaninya, hati yang baja untuk melewatinya. Karena hakikatnya ini (fungsi asasi muslimah) adalah kehendak Allah. ketika diri hebat dalam melaksanakannya, bahwa semata-mata ini adalah pertolonganNya. Dan ketika diri masih tertatih di dalamnya, sesungguhnya kepada dirilah kembali segala kekurangan. Robbana dholamna anfusana waighlam taghfirlana watarhamna lanakunanna minal khosirin

Semoga Allah menguatkan diri u senantiasa menjadi solusi sebagai bentuk kesyukuran kita pada Allah atas nikmat yang tak terhitung ini… Allahu’alam